Renegosiasi Harga Gas Tangguh Jadi US$8/MMBTU

Jero-Wacik-dan-SBY-Angpao888-Inilah-01072014
Menteri ESDM, Jero Wacik dan Presiden SBY | Dibaca 7

JAKARTA – Bisnis888.com : Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), berhasil merenegosiasikan kenaikan harga jual Gas Tangguh dari sebelumnya US$3,3 menjadi US$8 per MMBTU.

Negosiasi harga penjualan gas alam dari ladang Tangguh di Papua Barat ke perusahaan China National Offshore Oil Corporation (CNOOC) telah rampung.

“Harga Gas Tangguh naik cukup signifikan dan tidak tetap, yaitu dengan mengikuti harga minyak dunia. Ini menjadi good news untuk pemerintah ke depan,” kata Menteri ESDM, Jero Wacik seperti mengutip situs Kementerian ESDM, Senin (30/6/2014).

Wacik menjelaskan, pada tahun 2002 harga Gas Tangguh dipatok sebesar 5,5% dikali Japan Crude Cocktail (JCC) atau berdasarkan harga minyak di Jepang. Saat itu, harga JCC dipatok maksimal 26 per barel.

“Itulah yang membuat harga gas kita sangat rendah. Pada waktu itu harganya hanya US$2,7 per mmbtu. Itu berlangsung lama,” ujar Wacik.

Dengan harga US$2,7, pemerintah hanya mendapat pemasukan per tahunya rata-rata Rp3,1 triliun hingga 20 tahun mendatang (2034). Dengan disepakatinya harga baru yang bersifat progresif, pemasukan negara meningkat signifikan menjadi rata-rata Rp12,5 triliun per tahun hingga berakhirnya masa kontrak.

LNG (liquid natural gas) Tangguh adalah megaproyek kilang LNG untuk menampung gas alam yang berasal dari beberapa blok di sekitar Teluk Bintuni, Papua Barat. Blok-blok tersebut adalah Berau, Wiriagar dan Muturi.

Sementara itu, pembeli di Fujian adalah CNOOC. Kontrak Gas Tangguh ke Provinsi Fujian ditandatangani pada tahun 2002 pada masa kepemimpinan Presiden Megawati. Saat itu, Indonesia berkomitmen memasok gas mulai tahun 2009 sebesar 2,6 juta ton per tahun, selama 20 tahun.

Presiden Akui Negosiasi Harga Gas Tangguh Susah

Presiden mengakui renegosiasi harga jual Tangguh sangat sulit dengan pihak China.

“Saudara masih ingat dulu ada isu karena kontrak pada tahun 2002 itu dianggap terlalu rendah, dulu harganya hanya 2,7 dolar AS per MMBTU. Kemudian ternyata untuk mengubah kontrak tidak mudah, dengan negosiasi yang alot, waktu itu hanya naik beberapa begitu,” demikian mengutip pengantar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada rapat terbatas bidang perekonomian di kantor presiden, Senin (30/6/2014).

Namun, di akhir masa pemerintahan SBY, pemerintah mencoba melakukan negosiasi ulang terhadap kontrak dengan pemerintah China tersebut. “Dan yang terkahir, nanti mungkin bisa ditambahkan oleh Menko Perekonomian dan Menteri ESDM, hasil negosiasi harga jual gas Tangguh,” jelas SBY.

Presiden mengakui pada tahun 2012 ikut mencampingi proses negosiasi ulang. Saat itu dengan melakukan pertemuan dengan PM China Wen Jiabao dan Presiden Hu Jintao. “Negosiasi untuk harga jual gas Tangguh itu sungguh diperlukan untuk keadilan,” jelasnya.

Indonesia tidak ingin menjadi pihak yang merugi. Walaupun harus mengacu pada kontrak awal, tetapi kalau negosiasi berhasil maka akan menjadi lompatan penerimaan total hingga akhir tahun yang bisa mencapai 400 persen.

Dengan demikian rasanya lebih adil dan memang adil bagi kita. Memang contract is contract kita hormati. Tetapi selalu ada ruang untuk negosiasi. Itulah yang sedang kita lakukan. Saya mendapatkan goog news bahwa ada perubahan yang sangat signifikan. Tentunya dirampungkan dulu technicalnya,” paparnya.

Sumber : Inilah.com 

Comment Here