Kamis , 21 September 2017
Home / FINANCE / Properti Di Singapura Harganya Terus Melemah

Properti Di Singapura Harganya Terus Melemah

Sumber : google
Sumber : google

Bisnis888.Com : Serupa dengan Indonesia, tren pasar properti Singapura juga tengah mengalami perlambatan. Hal ini dipicu oleh pengetatan kredit, dan pengenaan pajak properti atau additional stamp duty (ASD) untuk orang asing sebesar 18 persen.

Kondisi demikian mengurangi minat orang asing membeli properti di Singapura. Terutama pembelian residensial, dan kondominium untuk semua kelas.

Sehingga menyebabkan  penjualan properti, mengalami penurunan, sehingga harga pun tertekan. Pembeli asing mancangera yang saat ini didominasi Tiongkok, Indonesia, dan Malaysia juga mengalami penurunan. Pasalnya, mereka sebagian besar membeli properti dengan motif investasi.

Urban Redevelopment Authority (URA) melaporkan perkembangan harga properti residensial yang dibangun pengembang swasta, mengalami penurunan sebesar empat persen selama tahun 2014.

Pasar properti Singapura diprediksi kian dekat menuju titik terendah menyusul langkah yang dilakukan pemerintah dalam mengendalikan harga properti yang terus membumbung dalam satu dekade terakhir.

LaSelle Investment Management–yang memiliki dana investasi real estate sebanyak US$58 miliar– menilai, harga properti Singapura terus melemah seiring pelemahan permintaan yang melandan salah satu pasar properti termahal di Asia tersebut.

“Hong Kong dan Singapura tengah dalam siklus yang berbeda. Meski pemerintah Hong Kong juga melakukan pembatasan di pasar perumahan , tapi tidak benar-benar berimbas pada koreksi harga yang terjadi saat ini,” jelas Managing Director LaSelle, Chris Chow seperti dilansir dari Bloomberg, Sabtu (28/5/2016).

Pasar properti Singapura sebelumnya telah menikmati kenaikan harga 92% sejak 2003 hingga September 2013. Menurunnya jumlah pembeli properti Singapura asal Indonesia, menurut CEO Leads Property Indonesia, Hendra Hartono, karena keuntungan investasi yang didapat berkurang. A

palagi hai ini dipicu oleh tertekannya harga.

“Sebagian besar pembeli properti asal Indonesia itu investor yang mengharapkan keuntungan modal dan imbal hasil. Dengan kondisi terkini Singapura membuat minat mereka berkurang. Mereka terkena dampak ASD 18 persen dan jatuhnya harga,” ujar Hendra kepada Kompas.com, Jumat (29/5/2015). (rl)

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz