Defisit Migas 2014 Diproyeksi Naik Menjadi US$20 Miliar

Migas-lepas-pantai-Angpao888-Antara-11072014
Defisit migas 2014 diprediksi masih naik | ANTARA FOTO/Zabur Karuru | Dibaca 6

JAKARTA – Angpao888.com : Defisit neraca migas tahun ini diproyeksikan melebar. Pemicunya adalah peningkatan impor minyak meski telah dilakukan pengendalian konsumsi.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebutkan besaran defisit hingga akhir tahun sebesar US$20 miliar. Angka tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun lalu US$18 miliar.

“Yang jadi masalah masih dari sisi migas meskipun pemerintah sudah membatasi konsumsi BBM bersubsidi,” ujar dia di kompleks Gedung BI, Jakarta, Jumat (11/7/2014).

Peningkatan defisit itu disebabkan oleh penurunan produksi dan kenaikan harga minyak mentah. Realisasi produksi hingga semester I tahun ini hanya mencapai 793 ribu barel per hari, di bawah target APBN Perubahan yakni 818 ribu barel per hari. Sementara harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Oil Price) US$106/barel.

“Ekspor gas juga tidak tinggi karena sebagian gas di konversi dalam negeri. Itu yang membuat defisit migas terus meningkat. Total penurunan tidak sekencang yang diperkirakan,” ungkap dia.

Kondisi ini tentu memberi tekanan terhadap transaksi berjalan. Ia berharap adanya perbaikan dari sisi neraca nonmigas sehingga mengurangi potensi defisit.

“Neraca nonmigasnya sebenarnya terjadi perbaikan. Itu karena seiring dengan kebijakan perlambatan pertumbuhan (lower growth), sehingga impor turun,” jelas dia.

Kendati begitu, neraca pembayaran Indonesia (NPI) diperkirakan tetap surplus. Alasannya, arus modal masih tetap deras hingga penghujung tahun ini.

Hingga akhir kuartal II, lanjut Perry, NPI diperkirakan surplus hampir US$2 miliar. Padahal, defisit transaksi berjalan mencapai US$9 miliar atau setara di atas 4% terhadap PDB.

“Nominal defisit transaksi berjalan di kuartal II tahun ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$10,1 miliar, dan prosentase terhadap PDB juga lebih rendah,” tuturnya.

Perbaikan fundamental tersebut dapat memberi penguatan terhadap nilai tukar rupiah. Namun, ia enggan menyebutkan level aman nilai tukar. “Yang jadi masalah tetap masih dari sisi migas,” tutup dia.(Ahl)

Oleh Daniel Wesly Rudolf  | Metrotvnews.com 

Comment Here